9 Keterampilan Dasar
Mengajar
Diadopsi dari
tulisan Dr. Waqiatul Masrurah dalam bukunya Praktek Mengajar I (2014)
STAIN
Pamekasan
(Editor:
Abdul Aziz)
Guru tidak dilahirkan tetapi dibentuk terlebih
dahulu. Pembentukan performance guru yang baik diperlukan keterampilan dasar.
Keterampilan dasar adalah : keterampilan standar
yang harus dimilikisetiap individu yang berprofesi sebagai guru.
Di bawah ini akan diuraikan keterampilan
keterampilan dasar mengajar (teaching skills) yang dapat diimplementasikan
dalam bentuk latihan pada proses pembelajaran micro yang harus dikuasai oleh
calon guru sebelum melaksanakan praktek mengajar.
Keterampilan dasar mengajar sebagai berikut :
a.
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
b.
Keterampilan mengelola kelas
c.
Keterampilan menjelaskan
d.
Keterampilan bertanya
e.
Keterampilan mengadakan variasi
f.
Keterampilan memberikan penguatan
g.
Keterampilan mengajar kelompok kecil atau
perorangan
h.
Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
i.
Keterampilan mengadakan evaluasi.
Sejumlah keterampilan yang akan diuraikan nanti
tidaklah terikat dengan sifat dan pembawaan pribadi seseorang, setiap orang
dapat memakainya dan dapat pula diterapkan pada semua jenis mata pelajaran
ataupun mata kuliah. Semua jenis mata pelajaran membutuhkan
keterampilan-keterampilan tersebut, perlu diketahui bahwa sejumlah keterampilan
merupakan hasil terapan teori-teori dalam ilmu mengajar, suatu ilmu yang
mempelajari proses yang terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar. Teori-teori
tersebut menambahkan sesuatu pada bakat yang memang telah dimiliki oleh seorang
pengajar dalam hal mengajar.
1. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
a.
Pengertian membuka pelajaran
Membuka pelajaran adalah kegiatan guru dalam
menciptakan kesiapan mental dan menimbulkan perhatian siswa, agar terpusat pada
hal-hal yang akan dipelajari.
Dalam membuka pelajaran, guru hendaknya memberi
pengarahan/ pengantar mengenai materi yang hendak diajarkan pada siswa sehingga
siswa siap mental dan tertarik untuk mengikutinya. Keterampilan membuka
pelajaran ini merupakan kunci dari seluruh proses pembelajaran yang akan
dilaluinya. Sebab jika awal pelajaran seorang guru tidak mampu menarik
perhatian siswa, maka proses pembelajaran yang dinamis tidak tercapai.
b.
Komponen-komponen
keterampilan membuka pelajaran meliputi :
1)
Menarik perhatian siswa, banyak cara yang dapat
digunakan guru untuk menarik perhatian siswa antara lain dengan gaya mengajar
guru, penggunaan alat bantu pelajaran, pola interaksi yang bervariasi.
2)
Menimbulkan motivasi dengan cara menimbulkan rasa
ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan, memperhatikan minat siswa, dan
disertai dengan kehangatan dan keantusiasan.
3)
Memberi acuan melalui berbagai usaha seperti
mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang
akan dilakukan, meningkatkan masalah pokok yang akan dibahas, mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
4)
Membuat kaitan atau hubungan diantara
materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah
dikuasai siswa.
c.
Menutup pelajaran
Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan
untuk mengakhiri pelajaran. Usaha menutup pelajaran memberikan gambaran
menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari, mengetahui tingkat pencapaian
siswa dan tingkat keberhasilan guru. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru
antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan
mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran.
Cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam menutup
pelajaran adalah :
1)
Meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan
merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
2)
Mendorong secara psikologis dan / atau sosial
kepada siswa.
3)
Memberi petunjuk untuk pelajaran atau topik
berikutnya.
4)
Mengevaluasi, bentuk evaluasi yang dapat dilakukan
guru antara lain ialah : mendemontrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide
baru pada situasi lain, mengeksplorasi pendapat siswa sendiri, memberikan
soal-soal tertulis.
2. Keterampilan mengelola kelas
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula
maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas, pengelolaan kelas
merupakan masalah yang kompleks. Guru menggunakannya untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi kelas untuk menggapai tujuan pengajaran secara efisien
dan memungkinkan anak didik dapat belajar, dengan demikian pengelolaan kelas
yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama dan yang
paling sulit dilakukan guru adalah pengelolaan kelas, lebih-lebih tidak ada
satu pun pendekatan yang dikatakan paling baik.
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya
bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif, dengan kata lain
kegiatan, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
optimal bagi terjadinya proses interaksi edukatif, yang termasuk kedalam hal
ini adalah misalnya penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan
perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi
ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik atau penetapan norma kelompok
yang produktif.
Keterampilan mengelola kelas merupakan
keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal
dan mengembalikannya kekondisi yang optimal jika terjadi gangguan baik dengan
can mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remidial.
a.
Penggunaan di dalam kelas
Penggunaan komponen dalam kelas yang mempunyai beberapa tujuan yang antara
lain:
Bagi siswa :
1)
Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab
individu terhadap tingkah lakunya
2)
Membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang
sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran guru merupakan
suatu peringatan dan bukan kemarahan
3)
Menimbulkan rasa kewajiban melibatkan diri dalam
tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.
b.
Prinsip penggunaan
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan komponen
keterampilan mengelola kelas adalah:
1)
Kehangatan dan keantusiasan
2)
Penggunaan bahan-bahan yang menantang akan
meningkatkan gairah belajar siswa
3)
Perlu dipertimbangkan penggunaan variasi media,
gaya mengajar, dan pola interaksi
4)
Diperlukan keluwesan tingkah laku guru dalam
mengubah strategi mengajamya untuk mencegah gangguan-gangguan yang timbul
5)
Penekanan hal-hal yang positif dan menghindari
pemusatan perhatian siswa pada hal-hal negatif
6)
Mendorong siswa untuk mengembangkan disiplin diri
sendiri dengan cara memberi contoh dalam perbuatan guru sehari-hari.
c.
Komponen keterampilan
1)
keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan
dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
2)
keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan
kondisi belajar yang optimal
3. Keterampilan menjelaskan
Menjelaskan adalah mendiskripsikan secara lisan
tentang sesuatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan
hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus
dimiliki guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menurut guru untuk memberikan
penjelasan oleh sebab itu keterampilan menjelaskan perlu ditingkatkan agar
dapat mencapai hasil yang optimal.
Ketrampilan menjelaskan merupakan salah satu ketrampilan yang amat penting. Karena itu
penguasan materi dan kemampuan menganalisis pokok persoalan yang akan dibahas
harus dikuasai oleh guru. Secara garis besar komponen ketrampilan menjelaskan
terdiri dari:
a.
Orientasi/ pengarahan
b.
Bahasa yang sederhana, lugas, dan mudah dipahami.
c.
Memberikan contoh yang banyak dan sesual dengan
topik yang disajikan.
d.
Struktur materi yang disampaikan harus jelas
dengan penekanan pada pokok-pokok materinya.
e.
Penuh variasi dalam penyampaian materi
f.
Melakukan latihan dan umpan balik.
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan
dalam memberikan suatu penjelasan:
a.
Penjelasan dapat diberikan selama pembelajaran,
baik diawal, ditengah maupun diakhir pembelajaran
b.
Penjelasan harus menarik perhatian peserta didik
dan sesuai dengan materi standar dan kompetensi dasar
c.
Penjelasan dapat diberikan untuk menjawab
pertanyaan peserta didik atau menjelaskan materi standar yang sudah
direncanakan untak membentuk kompetensi dasar dan mencapai tujuan pembelajaran
d.
Materi yang dijelaskan harus sesuai dengan
kompetensi dasar dan bermakna bagi peserta didik
e.
Penjelasan yang diberikan harus sesuai dengan
latar belakang dan tingkat kemampuan peserta didik.
4. Keterampilan bertanya
Keterampilan bertanya adalah kegiatan dalam prases
pembelalaran siswa berpikir dan memperoleh pengetahuan lebih banyak. Hal-hal
yang perlu dipertimbangkan ketika mengajukan pertanyaan pada siswa, antan lain:
a.
Menampakkan situasi kehangatan dan antusias.
b.
Diusahakan menghindari kebiasaan yang perlu
dihindari, antara lain:
1)
Mengulangi pertanyaan sendiri.
2)
Mengulangi jawaban siswa.
3)
Menjawab pertanyaan sendiri
4)
Membuat pertanyaan yang memancing jawaban
serentak, misalnya : “Apakah kamu samua…. ? jika siswa menjawab serentak, maka
kelas akan gaduh.
5)
Membuat pertanyaan ganda, misalnya: “Sebutkan
macam-macam shalat sunnah, hikmah shalat?”, pertanyaan semacam inimembuat siswa
bingung dan berpikir kurang terarah.
Dalam proses belajar mengajar, bertanya memainkan
peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik
pelontaran yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa yaitu:
a.
Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan
belajar-mengajar
b.
Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa
terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan
c.
Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dan
siswa sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya
d.
Menuntun proses berpikir siswa sebab pertanyaan
yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik
e.
Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang
sedang dibahas Keterampilan dan kelancaran bertanya dari calon guru maupun dari
guru itu perlu dilatih dan ditingkatkan baik isi pertanyaan maupun tekhnik
bertanya.
5. Keterampilan mengadakan variasi
Kebosanan merupakan masalah besar dalam kegiatan
belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu, untuk mencegah timbulnya kebosanan
serta mengatasi terjadinya kejenuhan, maka mengusahakan adanya variasi adalah
hal perlu dilakukan.
Adapun perincian komponen keerampilan mengadakan
variasi dalam pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, antara
lain:
a.
Variasi dalam gaya mengajar guru (teacher liveliness)
1)
Verbal merupakan pengunaan suara dan kata-kata
yang diucapkan guru.
a)
Nada suara dan intonasi (voice variation), misalnya, dari suara keras-lemah, dari
cepat-lambat, atau hal-hal yang penting diucapkan dengan lambat sehingga mudah
diikuti dan jelas ditangkap siswa
b)
Mengarahkan perhatian siswa (verbal focussing), misalnya, “perhatikan baik-baik, ini penting
sekali” dan lain-lain. Sebaiknya kata-kata pengarah diikuti dengan isyarat
seperti mengangkat tangan, dan lain-lain.
c)
Mengadakan diam (pause) sebentar (pausing/
silence), misalnya, “diam sebentar”,
sebelum guru menyampaikan sesuatu yang penting merupakan siasat yang dapat
membantu memikat perhatian siswa.
d)
Intonasi dan isyarat lisan lain (extra-verbal cues), misalnya guru
menanggapi pekerjaan siswa dengan kata “wah, pinter sekali”.
2)
Non verbal merupakan isyarat/bahasa badan yang
diantaranya:
a) Kontak mata (eye contact), sebaiknya guru menatap
siswanya, tidak terus melayangkan matanya ke arah papan tulis, ke langit-langit
atau ke lantai, guru mesti melihat ke semua siswa. Dan tatapan mata supaya
memberikan kesan simpatik dan ramah.
b) Ekspresi roman muka (facial expression/ mimik). Wajah yang
memberi kesan simpatik dapat mendorong siswa mengikuti pelajaran, sedangkan
wajah yang selalu serius atau bahkan serem biasanya membuat siswa menjadi bosan
atau tidak mau melibatkan diri. Expresi wajah misalnya, tersenyum, mengerutkan
dahi, dan lain-lain.
c) Gerak-gerik tangan (gestures). Variasi dalam gerak tangan,
kepala dan badan dapat memperkuat atau menggaris bawahi apa yang disampaikan
guru dan menambah expresi dan arti. Misalnya, guru dapat mengangguk,
menggelengkan kepala, mengangkat kepala, dll.
d) Tempat berdirinya
guru di kelas (movements). Misalnya,
kalau guru menyapa kelompok kecil dalam kelas, sebaiknya ia pelan-pelan
mendekati mereka, dll. Variasi jenis ini hendaknya diadakan dengan tepat guna
dan dilakukan secara wajar tidak berlebihan.
b.
Variasi dalam pola intreraksi guru-murid.
1)
Variasi dalam pola inreraksi dan kegiatan siswa.
Kebanyakan guru bicara terlalu banyak dan terlalu
lama dengan demikian justru kehilangan perhatian dan minat siswa. Pola
interaksi dapat divariasi dengan polapola lain seperti:
a) Guru-kelompok siswa.
b) Siswa-siswa dalam
diskusi.
c) Siswa-siswa
perorangan, misalnya, Buzz goups, dan lain-lain.
2)
Variasi dalam media dan alat-alat pelajaran.
a) Variasi dalam apa
yang dapat dilihat (visual), misalnya, benda nyata, grafik, globe, film,
kliping surat kabar, dan lain-lain.
b) Variasi dalam apa
yang dapat didengar (Audio), misalnya, rekaman, suara radio, diskusi, dramatisasi,
role playing, dan lain-lain.
c) Variasi dalam apa
yang dapat dipegang (motorik), misalnya, model, alat, patung, binatang, dan
lain-lain.
Jadi variasi dalam penggunaan media yang beragam
dan relevan dengan tujuan pembelajaran dapat merangsang pikiran siswa dan
meningkatkan hasil belajar.
Kegunaan variasi dalam kelas
a.
Memelihara dan meningkatkan perhatian siswa
terhadap hal-hal yang berkaiatan dengan aspek belajar
b.
Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi
rasa ingin tahu melalui kegiatan investigasi dan eksplorasi
c.
Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah
d.
Kemungkinan dilayaninya siswa secara individuai
sehingga memberi kemudahan belajar
e.
Mendorong aktivitas belajar dengan cara melibatkan
siswa dengan berbagai kegiatan atau pengalaman belajar yang menarik dan berguna
dalam berbagai tingkat kognitif.
6. Keterampilan memberikan penguatan
a.
Pengertian penguatan
Penguatan (Reinforcement)
adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal atau non verbal, yang
merupakan bagian dan modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa
yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (Feed back) bagi siswa atas perbuatannya
sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi.
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah
laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku
tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati
siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengar.
Dalam proses pembelajaran, penghargaan mempunyai
arti penting. Penghargaan ini tidak harus berbentuk materi, misalnya dalam
bentuk kata-kata, senyuman, anggukan, sentuhan. Misalnya guru mengajukan
pertanyaann pada siswa dan siswa menjawab tepat, maka guru sebaiknya memberikan
penghargaan. OIeh karena itu ada hubungan antara memberi penguatan dan
ketrampilan bertanya. Kaitannya adalah apakah guru mengajukan pertanyaan atau
meminta siswa mengemukakan pendapat dan dijawab dengan tepat, maka guru perlu
memberikan penguatan pada siswa.
b.
Jenis-jenis penguatan
1)
Penguatan verbal
Biasanya diungkapkan atau diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian,
penghargaan, persetujuan.
2)
Penguatan non verbal
a.
Penguatan gerak isyarat
b.
Penguatan pendekatan
c.
Penguatan dengan sentuhan
d. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
e.
Penguatan berupasimbol atau benda
f.
Jika siswa memberikan jawaban yang hanya sebagian
saja benar, guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa, dalam keadaan
seperti ini guru sebaiknya menggunakan atau memberikan penguatan tak penuh (parcial)
c.
Prinsip penggunaan penguatan
1)
Kehangatan dan keantusiasan
2)
Kebermaknaan
3)
Menghindari penggunaan respon yang negatif
d.
Cara menggunakan penguatan
1)
Penguatan kepada pribadi tertentu
2)
Penguatan kepada kelompok
3)
Pemberian penguatan dengan segera
4)
Variasi dalam penggunaan
e.
Tujuan pemberian penguatan
Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap
positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:
a)
Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran
b)
Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
c)
Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah
laku siswa yang produktif.
d)
Mengontrol dan memodifikasi perilaku siswa yang
kurang positif serta mendorong munculnya perilaku yang positif.
e)
Guru harus mengenal siswa secara pribadi.
7. Keterampilan mengajar kelompok kecil atau
perorangan
a.
Pengertian
Pengajaran kelompok kecil atau perorangan untuk
melibatkan antara tiga sampai delapan orang untuk kelompok kecil dan tentu saja
hanya menghadapi satu kelompok atau seorang siswa saja sepanjang waktu belajar,
guru menghadapi banyak kelompok dan banyak siswa yang masing-masing mempunyai
kesempatan untuk bertatap muka secara kelompok dan perorangan.
Hubungan tatap muka antara guru dan kelompok kecil
ini diwarnai oleh hakekat pengajaran kelompok kecil yaitu:
1)
Terjadinya hubungan yang akrab, sehat antara guru
dan siswa
2)
Siswa belajar sesuai dengan kecepatan, kemampuan
dan minat sendiri
3)
Siswa mendapat bantuan guru sesuai dengan
kebutuhannya
4)
siswa dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar
akan ditempuh, materi alat yang akan digunakan dan tujuan yang ingin dicapai.
Peran guru ini lebih banyak berfungsi sebagai berikut:
a) Organisator kegiatan
belajar mengajar
b) Sumber informasi bagi
siswa
c) Pendorong siswa untuk
belajar
d) Penyediaan materi
belajar bagi siswa
e) Mendiagnosa kesulitan
siswa dan memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya
f) Peserta kegiatan yang
mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan peserta lainnya.
b.
Variasi pengorganisasian
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan
memungkinkan guru memberi perhatian terhadap setiap siswa, serta terjadinya
hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa, maupun antara siswa dan siswa.
Dalam hal ini kelompok kecil dapat memenuhi kebutuhan tersebut, kelompok kecil
juga memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar dengan
demikian siswa mempunyai tanggung jawab yang lebih besar, hal ini memungkinkan
berkembangnya kreatif dan sifat kepemimpinan kepada siswa.
c.
Komponen keterampilan mengajar kelompok kecil atau
perorangan
1)
Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
2)
Keterampilan mengorganisasikan
3)
Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
4)
Keterampilan merencanakan dan melakukan
kegiatan-kegiatan
Agar pengajaran kelompok kecil atau perorangan
dapat berlangsung secara efektif, guru harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
a) Tidak semua topik
disajikan dalam format kelompok kecil dan perorangan
b) Lakukan pengajaran
kelompok kecil dan perorangan secara bertahap
c) Pengorganisasian
siswa, sumber, materi, ruangan dan waktu lurus dilakukan secara cermat
d) Kegiatan harus
diakhiri dengan kulminasi yang memungkinkan siswa belajar
Variasi pengorganisasian
![]() |
8. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur
dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil
kesimpulan dan memecahkan masalah.
Diskusi kelompok kecil merupakan salah satu bentuk
kegiatan pembelajaran yang sering digunakan, diskusi kelompok kecil memiliki
karakteristik sebagai berikut:
a.
Melibatkan sekitar tiga sampai lima orang peserta
dalam setiap kelompok
b.
Berlangsung secara informal sehingga setiap
anggota dapat berkomunikasi langsung dengan anggota lain
c.
Memilih tujuan yang dicapai dengan kerja sama
antar anggota kelompok
d.
Berlangsung secara sistematis
Melalui diskusi kelompok kecil dalam pembelajaran
memungkinkan peserta didik berbagai informasi dan pengalaman dalam pemecahan
suath masalah, meningkatkan pemahaman terhadap masalah yang penting dalam
pembelajaran, meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan
keputusan, mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomonikasi, membina kerja
sama yang sehat dalam kelompok yang kohesif dan bertanggungjawab.
Untuk menyukseskan jalannya diskusi kelompok kecil
terdapat beberapa keterampilan yang harus dimiliki oleh pemimpin diskusi,
sebagai berikut:
a) Memusatkan perhatian,
yang dapat dilakukan dengan cara merumuskan tujuan diskusi secara jelas,
merumusakn kembali masalah, jika terjadi penyimpangan, menandai hal-hal yang
tidak relevan dengan topik diskusi, merangkum hasil pembicaraan.
b) Memperjelas masalah
atau urutan pendapat melalui menguraikan kembali dan merangkum pendapat
peserta, mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota kelompok tentang pendapat
setiap anggota
c) Menguraikan setiap
gagasan anggota kelompok
d) Meningkatkan urunan
peserta didik dengan cara mengajukan pertanyaan kunci yang menentang, memberi
contoh secara tepat, menghangatkan suasana dengan pertanyaan yang mengundang
perbedaan pendapat, memberikan waktu berpikir, mendengarkan dengan penuh
perhatian
e) Menyebarkan
kesempatan berpartisipasi melalui memancing pendapat peserta yang kurang
berpartisipasi, memberikan kesempatan pertama kepada peserta yang kurang
berpartisipasi, mencegah terjadinya monopoli pembicaraan, mendorong peserta
didik ketika terjadi kebuntuan
f) Menutup kegiatan
diskusi, dengan cara merangkum hasil dan diskusi, tindak lanjut, menilai proses
diskusi yang telah dilakukan.
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan guru agar
diskusi kelompok kecil dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran
adalah:
a) Topik yang sesuai
b) Pembentukan kelompok
secara tepat
c) Pengaturan tempat
duduk yang memungkinkan semua eserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.
9. Keterampilan mengadakan evaluasi.
1.
Memperhatikan dan mengadakan pejajakan kemajuan
murid
2.
Mengadakan diagnosa kan dan kelemahan murid dalam
segi-segi tertentu
3.
Mencari pemecahan yaig bersifat mengatasi
kesulitan, kelemahan dalam segi-segi tertentu
4.
Mengembangkan berbagai cara mengadakan evaluasi
5.
Mendorong agar murid berani megadakan evaluasi
pada dirinya

cantumkan sumber boy
BalasHapus