Minggu, 18 Mei 2014

PARTICIPATORY ACTION RESEARCH (PAR)

PARTICIPATORY ACTION RESEARCH (PAR)

LANDASAN ONTOLOGIS DAN EPISTEMOLOGIS PARTICIPATORY ACTION RESEARCH BERBASIS AGAMA
Posisi ontologis PAR agak berbeda dengan posisi ontologis positivist, PAR mengasumsikan bahwa keberadaan suatu realitas faktual dan riil tidak tergantung pada observer (peneliti). Dari perspektif positivist realitas yang seperti itu seacara rasional dapat dimengerti/dipahami dan mengetahui pernyataan yang benar tentang suatu kejadian (event) dapat diperoleh melalui penelitian yang obyektif. Sikap ontologis dasar ini dikritik sebagai reduksionis dan deterministik. (Hesse, 1980). Menurut Reason, posisi ontologis PAR dengan sangat baik dituturkan oleh P. Freire:
The concrete reality for many social scientists is a list of particular facts that they would like to capture…For me, the concrete reality is something more than isolated facts. In my view, thinking dialectically, the concrete reality consists not only of concrete facts and (physical) things, but also includes the ways in winch the people involved with this facts perceive them. Thus in the last analysis, for me, the concrete reality is the connection between subjectivity and objectivity, never objectivity isolated from subjectivity. (Freire in Reason, 1994: 332)

Hal di atas dapat disebut ontologi relativis yang mempertahankan pendapat bahwa tidak ada dunia riil yang unik dan terlepas dari aktifitas mental dan bahasa manusia (Guba dan Lincoln, 1994). Pendukung posisi ontologis ini tercermin pada beberapa filosuf seperti Dewy, Habermas, Maxwell, Skolimowski dan lain-lain, di mana bagi mereka bangunan realitas tidak hanya dimanifestasikan melalui akal fikiran saja tetapi juga melalui aksi reflektif dari individu-individu maupun kelompok-kelompok.
Posisi ontologis relativis ini mempertahankan bahwa "penyelidikan manusia yang valid disyaratkan adanya partisipasi di dalam menciptakan pengetahuan baik personal maupun sosial" (Reason, 1994: 332). Dalam hal ini maka dialog menjadi kata kuncinya (key notion).
Because it is through dialogue that the subject-object relationship of traditional science gives way to a subject-subject one, in which the academic knowledge of formally educated people works in a dialectic tension with the popular knowledge of people to produce a more profound understanding of the situation (Reason, 1994:328)

Untuk dimensi epistemologi PAR tampaknya tidak ada konsensus di kalangan ilmuan, di mana terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan dalam hal orientasi epistemologinya sesuai dengan pendekatan action research yang beraneka ragam. Akan tetapi sebagian ilmuan melihat perbedaan tersebut tidaklah signifikan dan layak untuk diabaikan.
Ada beberapa posisi epistemologis yang berbeda dalam variasi pendekatan untuk PAR itu sendiri. Di antaranya ada yang menganjurkan jangan sampai berposisi secara radikal berlawanan dengan positivism. Mereka mendasarkan kasus ini pada fakta bahwa beberapa penelitian yang berorientasi aksi terinspirisai oleh karya Argyris dan Schön yang mencakup metode eksperimental sebagai salah satu strategi penelitian yang dipakai. Bagimanapun juga argumentasi ini tetap mengandung kelemahan. Di satu sisi para penulismya masih bingung antara metodologi dan epistemologi. Pada sisi lainya, mereka tidak dapat menangkap esensi konsep experimentation in action yang dibangun oleh Argyris dan Schön (1974), yang sesungguhnya bukan replika atau tiruan dari pengujian hipotesis tradisional atau eksperimentasi tradisional yang positifistik. Cukup dikatakan bahwa dua penulis tersebut menegaskan bahwa reflection in action dan experimentation in action dapat menjadi pondasi-pondasi baru untuk ilmu-ilmu aksi (action science) yang berbeda dengan (untuk tidak mengatakan mematahkan) "teknikalitas rasional" dari main stream positivism.
Di lapangan, para peniliti yang berorientasi aksi partisipatori yang mengadopsi suatu epistemology positivist suatu saat dengan cepat menyadari bahwa metode-metode dan desain penelitian mereka tidak kongkruen dengan paradigma ini, maka konsekwensinya mereka beralih/bergeser ke posisi post – positivism. Sesunguhnya membicarakan hal seperti ini, apakah desain PAR menggunakan positivism atau tidak, pada dasarnya akan tetap ada pertemtangan dan kritik yang mempersoalkan isu-isu epistemologis dalam melaksanakan PAR ini. Yang jelas logical positivism hanyalah salah satu teori menciptakan pengetahuan, tidak ada yang paling unik dan terbaik di antara teroi-teori ini.
Oleh karena itu beberpa peniliti PAR membuat plan/desain untuk epistemology alternative dengan tingkat yang lebih besar dari konsepsi pengetahun positivist. Yang pertama dapat disebut dengan clarifying dan positioning hubungan antara epistemology dan ideology, antara pengetahuan dan kekuaasaan.
If an inquiry is primarily engaged in service of dominant class it will not need to dialogue with people; it is not interested in their reality, but rather in imposing on them a dominant reality….If an inquiry is engaged in the service of the development of people, it will necessarily engage with them in dialogue (Reason, 1994:333)

Makna dialog dari pernyataan tersebut menekankan pentingnya menerima nilai-nilai pengetahuan popular, common sense dan kebijakan umum, serta pembelajaran intuitif.
Kedua, epistemology yang baru ini berusaha untuk memahami dunia pengalaman yang kompleks dari sudut pandang mereka yang hidup di dalamnya. Kebanyakan perhatian ditempatkan pada mengetahui pengalaman penting yang fundamental, yang dibangun dalam framework konsep eksistensial. Jika demikian, maka penelitian akhirnya dipandang sebagai sebuah studi terhadap masyarakat/individu yang dianggap sebagai obyek-obyek penyelidikan yang pasif dan tidak dipengaruhi oleh proses penelitian. Malahan, obyek penelitian dipahami sebagai sebuah situasi dunia di mana subyek-subyek manusia (peneliti) adalah actor-aktor yang memainkan peran kritis dan capable untuk melakukan refleksi diri menurut dunia mereka dan perilaku mereka di dalamnya (praxis mereka).
Ketiga, dengan ide bahwa pengetahuan eksperiensial tumbuh melalui partisipasi dengan yang lain, PAR mempercayai bahwa masyarakat bisa dan seharusnya berpartisipati di dalam mengidentifikasi problem-problem mereka sendiri, analisis-analisis dan interpretasi terhadap problem-problem tersebut dan menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi mereka (Resaon, 1994). Jadi, partisipasi memberi pertambahan pengetahuan ekperiensial dan membantu memecah hubungan subordinasi dengan hubungan antara peneliti dengan yang diteliti menjadi hubungan subyek-subyek daripada subyek-obyek. Dengan kata lain, pengetahuan dicipta dalam interaksi antara investigator dengan responden.
Keempat, perbedaan filosofis mengenai tujuan atau target penelitian. Dari perspektif positivist, tujuan penelitian adalah untuk memproduksi, melalui hipotesis yang mapan dan teruji sebagai fakta-fakta atau bahkan hokum-hukum, sebuah eksplanasi universal (prediksi dan control) yang utamanya didasarkan pada hubungan sebab-akibat (Guba dan Lincoln, 1994). PAR menempatkan tekanannya lebih pada situasi khusus atau konteks spesifik dan kurang begitu menekankan pada hokum-hukum universal karena perhatian utamanya adalah pada menciptakan perubahan yang akan memebawa keuntungan bagi mereka yang distudi. Apalagi, tidak seperti penelitian positivist yang perhatiannya pada mendeskripsikan "what is" dan menahan diri untuk tidak menawarkan "what should be", PAR percaya bahwa apa saja usaha-usaha ilmiyah adalah value-laden (momot nilai) dan bahwa pertimbangan moral pada solusi-solusi yang ditawarkan untu problem-problem social tidak dapat dan tidak seharusnya dihindari.
Terakhir, tujuan mempertimbangkan kepentingan-kepentingan mereka yang distudi mengarahkan PAR ke tempat yang betul-betul memperhatikan implikasi-implikasi etik dari studi penelitian. Tidak seperti peneliti positivist, yang perhatian etik utamanya adalah bahwa subyek setuju untuk diteliti, tidak peduli apakah nantinya akan merugikan atau tidak. PAR meyakini bahwa menggunakan subyek untuk memperoleh keuntungan eksklusif peneliti merupakan salah satu bentuk eksploitasi. Jadi, mereka tidak hanya mengurus kepentingan mereka sendiri dari hasil penelitian dan segala implikasinya, tetapi juga memperhatikan proses penelitian yang actual apakah memberikan pengaruh terhadap individu-individu dan system yang dipelajari atau tidak.

METODOLOGI
PAR is a methodology for an alternate systems for knowledge production based on the people's role in setting the agendas, participating in the data gathering and analysis, and controlling the use of the outcomes. The PAR methodology may use diverse methods, both qualitative and quantitative, to further these ends, many of which will derive from vernacular (often oral) traditions of communication and dissemination of knowledge. (P. Reason, 1994:339)

Pada umumnya isu-isu metodologis diuji dalam suatu konteks yang melampaui perdebatan steril tentang kegunaan relative antara metode-metode kuantitatif dan metode-metode kualitatif. Ketika metode-metode ini dipandang secara apriori tidak dapat diterima, kecenderungan kepada metode kualitatif tampaknya cukup koheren dengan posisi ontologism dan epistemologis yang telah didiskusikan di atas. Keterhubungan antara subyektifitas dan obyektifitas, pelibatan para partisipan, dan penangkapan yang akurat tentang kedalaman dan kompleksitas situsi khusus penelitian mungkin lebih baik untuk duiterangkan dengan metode-metode kualitatif. Apalagi, kebanyakan peneliti dengan pendektan PAR tidaklah memperhatikan dirinya terhadap keterbatasan metode kualitatif untuk menghasilkan fakta-fakta universal, ketika masalah itu menjadi perhatian utamanya.
Dalam menjaga perhatian terhadap PAR sebagai salah satu bentuk pendekatan penelitian yang mengutamakan pada empowerment (pemberdayaan), metodologi-metodologi actual, yang di dalam penelitian "ortodoks" disebut dengan desain penelitian, pengumpulan data, analisis data dan lain-lain, menempati posisi kedua setelah proses-proses penting seperti kolaborasi dan dialog yang membredayakan, memotivasi, menaikkan harga diri dan membangun soridaritas komunitas. Jadi, bentuk-bentuk akspresif seperti, sosio-drama, permainan-permainan, taria-tarian, menggambar dan melukis dan aktifitas lain yang menarik untuk membuat validasi data social yang obyektif tidak dapat dikumpulkan melalui prosses-proses ortodoks dalam survey atau penelitian lapangan. Sangat penting bagi sebuah kelompok yang tertekan/ditekan, yang seringkali merupakan bagian budaya yang terbungkam, mencoba mencari cara mengungkapkan dan kemudian mengkalim cerita mereka sendiri.
Kata kunci yang membedakan PAR dengan yang lain adalah dialog. Pendekatan dialogis ini berbeda dengan interview "tradisional" yang selama ini dikenal dan dipakai dari beberapa aspek. Interview memposisikan frame of reference sang peneliti pada posisi yang utama. Interview menwarkan satu jalan aliran informasi yang meninggalkan locus penelitian (subyek penelitian) pada posisi yang sama setelah berbagi pengetahuan, sehingga mengabaikan proses refleksi diri yang dapat menanamkan kaitan-kaitan atau hubungan-hubungan antar informasi. Sedangkan dalam pendekatan dialogis, peneliti sharing persepsi-persepsi, pertanyaan-pertanyaan,dan refleksinya dalam rangka merespon cerita (dalam bahasa jawa disebut: uneg-uneg) para participant dan menempatkannya dihadapan data-data dan tweori-teori yang berbeda-beda, mengundang partisipan untuk ikut serta dalam refleksifitas yang nyata. Sharing seperti ini menciptakan suasana kondusif untuk menhasilkan otentisitas, hubungan dua jalan antara peneliti dan partisipan, di mana belajar berkaitan langsung dengan pengujian diri dari sudut pandang kritis yang baru.
Perdebatan yang penuh semangat tentang pembatasan epistemology positivist di atas telah memunculkan beberapa model alternative metodologi penelitian yang menempatkan perhatian pada pengumoulan pengetahuan dalam konteks praktis sebagai lawan dari artificial dan setting yang eksperimental yang terkontrol. Model-model ini kadang ada yang overlapping dengan penyebutan yang bervariasi seperti fenomenologis, hermeneutic, interactional dan pendekatan srtruktural. Masing-masing model tidaklah bertentangan bahkan saling mendukung antara satu dengan yang lain.
Pendekatan fenomenologi dan hermeneutik difokuskan pada mengkonstruk system representasi dan pada makna yang diberikan pelaku terhadap perilaku dan realitas mereka. Bagaimanapun juga dua pendekatan ini tetap menggunakan model analisis interpreatsi yang berbeda. Subjectivisme dalam pendekatan fenomenologi menilai sangat tinggi terhadap pertimbangan-pertimbangan subyektif pelaku untuk disistematisasi tanpa menambahi makna-makna yang lain kecuali yang diberikan oleh pelaku sendiri. Dengan kata lain, kewaspadaan peneliti tetap konsisten dalam menolak kategori analisis yang asing bagi kategori pelaku. Obyektifitas utama peneliti adalah untuk menangkap, melalui diskripsi sebanyak mungkin, pengalaman yang hidup di dalam diri subyek, dengan suatu pandangan untuk mengelaborasi suatu presentasi tematik dari bahan-bahan yang telah dikumpulkan.
Di dalam pendekatan hermeneutic, peneliti berusaha memasuki wilayah di luar pernyataan klien dengan tujuan untuk membangun sebuah makna melalui analisis semantic terhjadap isi/kandungan bahan yang terkumpulk dari subyek. Dengan kata lain, proses penelitian di sini di arahkan untuk membangun sebuah makna yang agak berbeda dengan makna yang bersifat common sense yang diberikan oleh subyek. Yang terakhir dipandang oleh peneliti sebagai sebuah retorika di mana metafora menjadi elemen kunci bagi pengertian catatan-catatan yang telah terkumpulkan.
Pendekatan interactional dan structural tidak begitu menaruh perhatian mereka pada kontruksi makna. Malahan dengan menggunakan konsep strategi, mereka menfikuskan diri pada studi terhadap perilaku atau praktis itu sendiri. Tetapi mereka masih menggunalan cara-cara analisis interpretasi yang berbeda kalau dibandingkan dengan pendekatan fenomenologis dan hermeneutic di atas. Dalam pendekatan interactional strategi dipahami dalam term aktivitas-aktivitas dan modalitas perilaku yang digunakan untuk mencari soslusi terhadap situasi yang bermasalah atau untuk mengatasi ketidakmenentuan. Analisis terhadap materi yang terkumpulkan cenderung bersifat kongkrit dan diskriptif, dan perhatian yang sebenarnya diberikan terhadap konteks dimana interacsi social itu terjadi.
Sedangkan di dalam pendekatan structural, isu tentang kekuasaan menjadi sentral, dan strategi-strategi dpandang sebagai sebuah kontruksi hubungan hubungan social. Jadi, proses-proses sosio-cultural yang telah diidentifikasi dapat dianggap sebagai strategi-strategi yang tersebar. Ini berarti bahwa penting untuk keluar dari deskripsi terhadap fenomena supaya dapat merekontruksi tingkatan-tingkatan realitas yang lain di mana pelaku sendiri bisa jadi tidak menyadarinya.
Pembicaraan lebih lanjut tentang nilai dan ideology dalam PAR ini diarahkan menelaah kemiripannya dengan "teori kritis"; pemilahan tradisional antara ontology dan epistemology ditentang dengan kebijaksaan kepercayaan bahwa apa yang dapat diketahui itu diciptakan oleh interaksi antara peneliti dan yang diteliti. Selanjutnya, sebagaimnana kasus yang terjadi pada critical theory dan konstruktifism, pertanyaan metodologis di dalam PAR didekati dengan deal (kesepakatan yang kuat dari sensifitas dialectis. Dialog dan hubungan dialogis antara peneliti dan yang diteliti dirasakan sebagai dialectical in nature (dialectis yang alami).
PAR pada dasarnya adalah suatu bentuk non-tradisional dari penelitian yang sering dilaksanakan dengan pendektan community-based dan dilaksanakan oleh praktisi di lapangan. Kaitan antara "action" dan "research" menjelaskan hakekat dasar dari pendektan ini, yang mencakup pengujian gagasan-gagasan dalam praktek langsung sebagai cara untuk meningkatkan kondisi social dan meningkatkan pengetahuan.
PAR dilaksanakan dalam suatu spiral langkah-langkah yang teriri dari perencanaan, aksi dan evaluasi dari hasil aksi. Prosesnya dimulai dari suatu gagasan bersama bahwa harus ada peningkatan atau perubahan di dalam wilayah kerja para praktisi. Kemudian dibentuklah sebuah kelompok untuk mengklarifikasi perhatian dan minat bersama yang sudah diidentifikasi. Kelompok tersebut membuat keputusan untuk ber=kerja bersama dan memusatkan strategi peningkatannya pda "kepihatinan tematik" tersebut.
Stephen Kemmis telah membangun sebuah model sederhana untuk menggambrkan proses dalam PAR ini yang ia sebut dengan cyclical nature.

Plan – Act – Observe – Reflect –Revised Plan – Action – Act – Observe – Reflect – dst 


 
BEBERAPA PRINSIP DASAR DALAM PAR
1. Kolaborasi
Focus kolaborasi mencakup interaksi antara seorang peneliti atau tim peneliti dan seorang paraktisi atau sekolmpok praktisi. Para praktisi adalah individu-individu yang mengenal lapangan atau wilayah kerja dari perpspektif internal menyangkut sejarah dari perkembangan wilayah kerja, pengetahuan tentang bagaimana orang-orang lain di wilayah itu mengharap[kan sesuatu bisa terwujud dan mengetahui bagaimana sesuatu bisanya dilakukan. Peneliti merupakan orang luar yang memiliki keahlian dalam teori dan riset tetapi pengetahuannya terbatas berkaitan dengan wilayah setempat. Kolaborasi kedua kelompok bisa bervariasi dari hanya bersifat periodic menjadi kolaborasi berkepanjangan sepanjang studi.
Peneliti mungkin bukan seorang ahli dari luar dan seringkali dipandang sebagai "rekan kerja" dalam pelaksanaan penelitian bersama dan untuk para praktisi. Kelompok ini bisa diperluas untuk melibatkan sebanyak mungkin orang yang akan mendapatkan pengaruh darui praktek-praktek yang sedang diteliti.
2. Pemecahan Masalah
Pada dasarnya penelitian dengan pendektan ini adalah alat untuk memecahkan masalah-masalah yang dialami oleh orang dalam kehidupan professional, komunitas atau pribadi mereka. Masalah itu dibatasi dalam kaitan dengan suatu situasi dan setting yang spesifik yang ditentukan oleh kelompok, komunitas atau organisasi. Berbagai metode pengumpulan data dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah tersebut,misalnya: observasi, interview, kuesioner dan lain-lain, tetapi yang paling utama adalah dialog.
3. Perubahan dalam Praktek
Hasil-hasil dan pikiran-pikiran yang diperoleh dari penelitian tidak boleh hanya memiliki arti penting secara teoritis tetapi juga membawa kepada peningkatan dalam wilayah masalah-masalah yang diidentifikasi. Perubahan dalam praktek akan bergantung pada hakekat dari masalah yang diidentifikasi
4. Pengembangan Teori
Hasil-hasil penelitian dengan PAR ditujukan untuk membantu peneliti dalam mengembangkan teori-teori baru atau memperluas teori-teori ilmiyah yang ada. Melalui proses dalam PAR para praktisi mampu mengembangkan sutau justifikasi yang beralasan atas kerja mereka. Bukti yang dikumpulkan dan refleksi kritis yang terjadi membantu menciptakan suatu "rationale" yang maju dan teruji secara kritis bagi daerah praktek dari para praktisi.
5. Hasil Publik
Teori-teori dan pemecahan masalah yang dihasilkan PAR harus dipaparkan secara public kepada para partisipan lain dan juga kepada komunitas yang lebih luas yang mungkin memiliki ketertarikan pada settting kerja atau situasi tersebut.

PENUTUP
Bagimana sesungguhnya model pengabdian kepada masyarakat bagi PTAI yang salah satu fungsinya adalah sebagai agent of change, dengan pengabdian yang betul-betul bermakna pengabdian? Ini penting untuk menghindarkan diri dari pseudo-pengabdian, yang dibalik itu adalah semata-mata untuk kepentingan diri peneliti bukan kepentingan masyarakat. Satu hal esensial dari pengabdian dengan makna yang sesungguhnya adalah pemberdayaan. Dengan kata ini, masyarakat dapat memiliki kekuatan di dalam dirinya untuk memandang dirinya dan memecahkan masalah-maslah yang dihadapinya. Dengan kata itu pula masyarakat semakin mampu menjauh dari ketergantungan kepada peneliti yang sbenarnya adalah orang luar. Untuk menjawab itu tampaknya penelitian pemberdayaan dan partisipatif menjadi salah satu jawabannya. Wallahu a'lam bisshowab.

REFERENSI
1. Rory O'Brien, An Overview of the Methodological Approach of Action Research, 1998.
2. Kamal Fahmi, Participatory Action Research (PAR): A View From The Field, Thesis,  
    McGill University, 2003
3. Don K Marut, Riset Aksi Partisipatoris: Riset pemberdayaan dan Pembebasan,
    Yogyakarta, Insist Press, 2004.
4. http://www.web.net/~robrien/papers/arfinal.html
5. http://depts.washington.edu/ccph/pdf_files/syllabus_2005_final.pdf.
6. Gerrit Huizer, Participatory action research and people's participation: Introduction
    and Case Studies, 1997 dalam http://www.sddimension.com

Keterampilan Dasar Mengajar


9 Keterampilan Dasar Mengajar
Diadopsi dari tulisan Dr. Waqiatul Masrurah dalam bukunya Praktek Mengajar I (2014)
STAIN Pamekasan
(Editor: Abdul Aziz)

Guru tidak dilahirkan tetapi dibentuk terlebih dahulu. Pembentukan performance guru yang baik diperlukan keterampilan dasar.
Keterampilan dasar adalah : keterampilan standar yang harus dimilikisetiap individu yang berprofesi sebagai guru.
Di bawah ini akan diuraikan keterampilan keterampilan dasar mengajar (teaching skills) yang dapat diimplementasikan dalam bentuk latihan pada proses pembelajaran micro yang harus dikuasai oleh calon guru sebelum melaksanakan praktek mengajar.
Keterampilan dasar mengajar sebagai berikut :
a.       Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
b.      Keterampilan mengelola kelas
c.       Keterampilan menjelaskan
d.      Keterampilan bertanya
e.       Keterampilan mengadakan variasi
f.       Keterampilan memberikan penguatan
g.      Keterampilan mengajar kelompok kecil atau perorangan
h.      Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
i.        Keterampilan mengadakan evaluasi.
Sejumlah keterampilan yang akan diuraikan nanti tidaklah terikat dengan sifat dan pembawaan pribadi seseorang, setiap orang dapat memakainya dan dapat pula diterapkan pada semua jenis mata pelajaran ataupun mata kuliah. Semua jenis mata pelajaran membutuhkan keterampilan-keterampilan tersebut, perlu diketahui bahwa sejumlah keterampilan merupakan hasil terapan teori-teori dalam ilmu mengajar, suatu ilmu yang mempelajari proses yang terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar. Teori-teori tersebut menambahkan sesuatu pada bakat yang memang telah dimiliki oleh seorang pengajar dalam hal mengajar.

1.      Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
a.       Pengertian membuka pelajaran
Membuka pelajaran adalah kegiatan guru dalam menciptakan kesiapan mental dan menimbulkan perhatian siswa, agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
Dalam membuka pelajaran, guru hendaknya memberi pengarahan/ pengantar mengenai materi yang hendak diajarkan pada siswa sehingga siswa siap mental dan tertarik untuk mengikutinya. Keterampilan membuka pelajaran ini merupakan kunci dari seluruh proses pembelajaran yang akan dilaluinya. Sebab jika awal pelajaran seorang guru tidak mampu menarik perhatian siswa, maka proses pembelajaran yang dinamis tidak tercapai.

b.      Komponen-komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi :
1)      Menarik perhatian siswa, banyak cara yang dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa antara lain dengan gaya mengajar guru, penggunaan alat bantu pelajaran, pola interaksi yang bervariasi.
2)      Menimbulkan motivasi dengan cara menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan, memperhatikan minat siswa, dan disertai dengan kehangatan dan keantusiasan.
3)      Memberi acuan melalui berbagai usaha seperti mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan, meningkatkan masalah pokok yang akan dibahas, mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
4)      Membuat kaitan atau hubungan diantara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai siswa.

c.       Menutup pelajaran
Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri pelajaran. Usaha menutup pelajaran memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran.
Cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam menutup pelajaran adalah :
1)      Meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
2)      Mendorong secara psikologis dan / atau sosial kepada siswa.
3)      Memberi petunjuk untuk pelajaran atau topik berikutnya.
4)      Mengevaluasi, bentuk evaluasi yang dapat dilakukan guru antara lain ialah : mendemontrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide baru pada situasi lain, mengeksplorasi pendapat siswa sendiri, memberikan soal-soal tertulis.



2.      Keterampilan mengelola kelas
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas, pengelolaan kelas merupakan masalah yang kompleks. Guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas untuk menggapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan anak didik dapat belajar, dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama dan yang paling sulit dilakukan guru adalah pengelolaan kelas, lebih-lebih tidak ada satu pun pendekatan yang dikatakan paling baik.
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif, dengan kata lain kegiatan, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses interaksi edukatif, yang termasuk kedalam hal ini adalah misalnya penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran  bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya kekondisi yang optimal jika terjadi gangguan baik dengan can mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remidial.

a.       Penggunaan di dalam kelas
Penggunaan komponen dalam kelas yang mempunyai beberapa tujuan yang antara lain:

Bagi siswa :
1)      Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya
2)      Membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan
3)      Menimbulkan rasa kewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.

b.      Prinsip penggunaan
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan komponen keterampilan mengelola kelas adalah:
1)      Kehangatan dan keantusiasan
2)      Penggunaan bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah belajar siswa
3)      Perlu dipertimbangkan penggunaan variasi media, gaya mengajar, dan pola interaksi
4)      Diperlukan keluwesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajamya untuk mencegah gangguan-gangguan yang timbul
5)      Penekanan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal-hal negatif
6)      Mendorong siswa untuk mengembangkan disiplin diri sendiri dengan cara memberi contoh dalam perbuatan guru sehari-hari.

c.       Komponen keterampilan
1)      keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
2)      keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal

3.      Keterampilan menjelaskan
Menjelaskan adalah mendiskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menurut guru untuk memberikan penjelasan oleh sebab itu keterampilan menjelaskan perlu ditingkatkan agar dapat mencapai hasil yang optimal.
Ketrampilan menjelaskan merupakan salah satu  ketrampilan yang amat penting. Karena itu penguasan materi dan kemampuan menganalisis pokok persoalan yang akan dibahas harus dikuasai oleh guru. Secara garis besar komponen ketrampilan menjelaskan terdiri dari:
a.       Orientasi/ pengarahan
b.      Bahasa yang sederhana, lugas, dan mudah dipahami.
c.       Memberikan contoh yang banyak dan sesual dengan topik yang disajikan.
d.      Struktur materi yang disampaikan harus jelas dengan penekanan pada pokok-pokok materinya.
e.       Penuh variasi dalam penyampaian materi
f.       Melakukan latihan dan umpan balik.

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan suatu penjelasan:
a.       Penjelasan dapat diberikan selama pembelajaran, baik diawal, ditengah maupun diakhir pembelajaran
b.      Penjelasan harus menarik perhatian peserta didik dan sesuai dengan materi standar dan kompetensi dasar
c.       Penjelasan dapat diberikan untuk menjawab pertanyaan peserta didik atau menjelaskan materi standar yang sudah direncanakan untak membentuk kompetensi dasar dan mencapai tujuan pembelajaran
d.      Materi yang dijelaskan harus sesuai dengan kompetensi dasar dan bermakna bagi peserta didik
e.       Penjelasan yang diberikan harus sesuai dengan latar belakang dan tingkat kemampuan peserta didik.

4.      Keterampilan bertanya
Keterampilan bertanya adalah kegiatan dalam prases pembelalaran siswa berpikir dan memperoleh pengetahuan lebih banyak. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan ketika mengajukan pertanyaan pada siswa, antan lain:
a.       Menampakkan situasi kehangatan dan antusias.
b.      Diusahakan menghindari kebiasaan yang perlu dihindari, antara lain:
1)      Mengulangi pertanyaan sendiri.
2)      Mengulangi jawaban siswa.
3)      Menjawab pertanyaan sendiri
4)      Membuat pertanyaan yang memancing jawaban serentak, misalnya : “Apakah kamu samua…. ? jika siswa menjawab serentak, maka kelas akan gaduh.
5)      Membuat pertanyaan ganda, misalnya: “Sebutkan macam-macam shalat sunnah, hikmah shalat?”, pertanyaan semacam inimembuat siswa bingung dan berpikir kurang terarah.
Dalam proses belajar mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa yaitu:
a.       Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar
b.      Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan
c.       Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dan siswa sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya
d.      Menuntun proses berpikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik
e.       Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas Keterampilan dan kelancaran bertanya dari calon guru maupun dari guru itu perlu dilatih dan ditingkatkan baik isi pertanyaan maupun tekhnik bertanya.

5.      Keterampilan mengadakan variasi
Kebosanan merupakan masalah besar dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu, untuk mencegah timbulnya kebosanan serta mengatasi terjadinya kejenuhan, maka mengusahakan adanya variasi adalah hal perlu dilakukan.
Adapun perincian komponen keerampilan mengadakan variasi dalam pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, antara lain:
a.       Variasi dalam gaya mengajar guru (teacher liveliness)
1)      Verbal merupakan pengunaan suara dan kata-kata yang diucapkan guru.
a)      Nada suara dan intonasi (voice variation), misalnya, dari suara keras-lemah, dari cepat-lambat, atau hal-hal yang penting diucapkan dengan lambat sehingga mudah diikuti dan jelas ditangkap siswa
b)      Mengarahkan perhatian siswa (verbal focussing), misalnya, “perhatikan baik-baik, ini penting sekali” dan lain-lain. Sebaiknya kata-kata pengarah diikuti dengan isyarat seperti mengangkat tangan, dan lain-lain.
c)      Mengadakan diam (pause) sebentar (pausing/ silence), misalnya, “diam sebentar”, sebelum guru menyampaikan sesuatu yang penting merupakan siasat yang dapat membantu memikat perhatian siswa.
d)     Intonasi dan isyarat lisan lain (extra-verbal cues), misalnya guru menanggapi pekerjaan siswa dengan kata “wah, pinter sekali”.
2)      Non verbal merupakan isyarat/bahasa badan yang diantaranya:
a)      Kontak mata (eye contact), sebaiknya guru menatap siswanya, tidak terus melayangkan matanya ke arah papan tulis, ke langit-langit atau ke lantai, guru mesti melihat ke semua siswa. Dan tatapan mata supaya memberikan kesan simpatik dan ramah.
b)      Ekspresi roman muka (facial expression/ mimik). Wajah yang memberi kesan simpatik dapat mendorong siswa mengikuti pelajaran, sedangkan wajah yang selalu serius atau bahkan serem biasanya membuat siswa menjadi bosan atau tidak mau melibatkan diri. Expresi wajah misalnya, tersenyum, mengerutkan dahi, dan lain-lain.
c)      Gerak-gerik tangan (gestures). Variasi dalam gerak tangan, kepala dan badan dapat memperkuat atau menggaris bawahi apa yang disampaikan guru dan menambah expresi dan arti. Misalnya, guru dapat mengangguk, menggelengkan kepala, mengangkat kepala, dll.
d)     Tempat berdirinya guru di kelas (movements). Misalnya, kalau guru menyapa kelompok kecil dalam kelas, sebaiknya ia pelan-pelan mendekati mereka, dll. Variasi jenis ini hendaknya diadakan dengan tepat guna dan dilakukan secara wajar tidak berlebihan.
b.      Variasi dalam pola intreraksi guru-murid.
1)      Variasi dalam pola inreraksi dan kegiatan siswa.
Kebanyakan guru bicara terlalu banyak dan terlalu lama dengan demikian justru kehilangan perhatian dan minat siswa. Pola interaksi dapat divariasi dengan polapola lain seperti:
a)      Guru-kelompok siswa.
b)      Siswa-siswa dalam diskusi.
c)      Siswa-siswa perorangan, misalnya, Buzz goups, dan lain-lain.
2)      Variasi dalam media dan alat-alat pelajaran.
a)      Variasi dalam apa yang dapat dilihat (visual), misalnya, benda nyata, grafik, globe, film, kliping surat kabar, dan lain-lain.
b)      Variasi dalam apa yang dapat didengar (Audio), misalnya, rekaman, suara radio, diskusi, dramatisasi, role playing, dan lain-lain.
c)      Variasi dalam apa yang dapat dipegang (motorik), misalnya, model, alat, patung, binatang, dan lain-lain.
Jadi variasi dalam penggunaan media yang beragam dan relevan dengan tujuan pembelajaran dapat merangsang pikiran siswa dan meningkatkan hasil belajar.

Kegunaan variasi dalam kelas
a.       Memelihara dan meningkatkan perhatian siswa terhadap hal-hal yang berkaiatan dengan aspek belajar
b.      Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi rasa ingin tahu melalui kegiatan investigasi dan eksplorasi
c.       Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah
d.      Kemungkinan dilayaninya siswa secara individuai sehingga memberi kemudahan belajar
e.       Mendorong aktivitas belajar dengan cara melibatkan siswa dengan berbagai kegiatan atau pengalaman belajar yang menarik dan berguna dalam berbagai tingkat kognitif.

6.      Keterampilan memberikan penguatan
a.       Pengertian penguatan
Penguatan (Reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal atau non verbal, yang merupakan bagian dan modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (Feed back) bagi siswa atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi.
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengar.
Dalam proses pembelajaran, penghargaan mempunyai arti penting. Penghargaan ini tidak harus berbentuk materi, misalnya dalam bentuk kata-kata, senyuman, anggukan, sentuhan. Misalnya guru mengajukan pertanyaann pada siswa dan siswa menjawab tepat, maka guru sebaiknya memberikan penghargaan. OIeh karena itu ada hubungan antara memberi penguatan dan ketrampilan bertanya. Kaitannya adalah apakah guru mengajukan pertanyaan atau meminta siswa mengemukakan pendapat dan dijawab dengan tepat, maka guru perlu memberikan penguatan pada siswa.

b.      Jenis-jenis penguatan
1)      Penguatan verbal
Biasanya diungkapkan atau diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan.
2)      Penguatan non verbal
a.       Penguatan gerak isyarat
b.      Penguatan pendekatan
c.       Penguatan dengan sentuhan
d.      Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
e.       Penguatan berupasimbol atau benda
f.       Jika siswa memberikan jawaban yang hanya sebagian saja benar, guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa, dalam keadaan seperti ini guru sebaiknya menggunakan atau memberikan penguatan tak penuh (parcial)
c.       Prinsip penggunaan penguatan
1)      Kehangatan dan keantusiasan
2)      Kebermaknaan
3)      Menghindari penggunaan respon yang negatif
d.      Cara menggunakan penguatan
1)      Penguatan kepada pribadi tertentu
2)      Penguatan kepada kelompok
3)      Pemberian penguatan dengan segera
4)      Variasi dalam penggunaan
e.       Tujuan pemberian penguatan
Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:
a)      Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran
b)      Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
c)      Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
d)     Mengontrol dan memodifikasi perilaku siswa yang kurang positif serta mendorong munculnya perilaku yang positif.
e)      Guru harus mengenal siswa secara pribadi.

7.      Keterampilan mengajar kelompok kecil atau perorangan
a.       Pengertian
Pengajaran kelompok kecil atau perorangan untuk melibatkan antara tiga sampai delapan orang untuk kelompok kecil dan tentu saja hanya menghadapi satu kelompok atau seorang siswa saja sepanjang waktu belajar, guru menghadapi banyak kelompok dan banyak siswa yang masing-masing mempunyai kesempatan untuk bertatap muka secara kelompok dan perorangan.
Hubungan tatap muka antara guru dan kelompok kecil ini diwarnai oleh hakekat pengajaran kelompok kecil yaitu:
1)      Terjadinya hubungan yang akrab, sehat antara guru dan siswa
2)      Siswa belajar sesuai dengan kecepatan, kemampuan dan minat sendiri
3)      Siswa mendapat bantuan guru sesuai dengan kebutuhannya
4)      siswa dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar akan ditempuh, materi alat yang akan digunakan dan tujuan yang ingin dicapai. Peran guru ini lebih banyak berfungsi sebagai berikut:
a)      Organisator kegiatan belajar mengajar
b)      Sumber informasi bagi siswa
c)      Pendorong siswa untuk belajar
d)     Penyediaan materi belajar bagi siswa
e)      Mendiagnosa kesulitan siswa dan memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya
f)       Peserta kegiatan yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan peserta lainnya.
b.      Variasi pengorganisasian
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan memungkinkan guru memberi perhatian terhadap setiap siswa, serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa, maupun antara siswa dan siswa. Dalam hal ini kelompok kecil dapat memenuhi kebutuhan tersebut, kelompok kecil juga memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar dengan demikian siswa mempunyai tanggung jawab yang lebih besar, hal ini memungkinkan berkembangnya kreatif dan sifat kepemimpinan kepada siswa.
c.       Komponen keterampilan mengajar kelompok kecil atau perorangan
1)      Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
2)      Keterampilan mengorganisasikan
3)      Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
4)      Keterampilan merencanakan dan melakukan kegiatan-kegiatan

Agar pengajaran kelompok kecil atau perorangan dapat berlangsung secara efektif, guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)      Tidak semua topik disajikan dalam format kelompok kecil dan perorangan
b)      Lakukan pengajaran kelompok kecil dan perorangan secara bertahap
c)      Pengorganisasian siswa, sumber, materi, ruangan dan waktu lurus dilakukan secara cermat
d)     Kegiatan harus diakhiri dengan kulminasi yang memungkinkan siswa belajar










Variasi pengorganisasian


 














8.      Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah.
Diskusi kelompok kecil merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran yang sering digunakan, diskusi kelompok kecil memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.       Melibatkan sekitar tiga sampai lima orang peserta dalam setiap kelompok
b.      Berlangsung secara informal sehingga setiap anggota dapat berkomunikasi langsung dengan anggota lain
c.       Memilih tujuan yang dicapai dengan kerja sama antar anggota kelompok
d.      Berlangsung secara sistematis
Melalui diskusi kelompok kecil dalam pembelajaran memungkinkan peserta didik berbagai informasi dan pengalaman dalam pemecahan suath masalah, meningkatkan pemahaman terhadap masalah yang penting dalam pembelajaran, meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomonikasi, membina kerja sama yang sehat dalam kelompok yang kohesif dan bertanggungjawab.
Untuk menyukseskan jalannya diskusi kelompok kecil terdapat beberapa keterampilan yang harus dimiliki oleh pemimpin diskusi, sebagai berikut:
a)      Memusatkan perhatian, yang dapat dilakukan dengan cara merumuskan tujuan diskusi secara jelas, merumusakn kembali masalah, jika terjadi penyimpangan, menandai hal-hal yang tidak relevan dengan topik diskusi, merangkum hasil pembicaraan.
b)      Memperjelas masalah atau urutan pendapat melalui menguraikan kembali dan merangkum pendapat peserta, mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota kelompok tentang pendapat setiap anggota
c)      Menguraikan setiap gagasan anggota kelompok
d)     Meningkatkan urunan peserta didik dengan cara mengajukan pertanyaan kunci yang menentang, memberi contoh secara tepat, menghangatkan suasana dengan pertanyaan yang mengundang perbedaan pendapat, memberikan waktu berpikir, mendengarkan dengan penuh perhatian
e)      Menyebarkan kesempatan berpartisipasi melalui memancing pendapat peserta yang kurang berpartisipasi, memberikan kesempatan pertama kepada peserta yang kurang berpartisipasi, mencegah terjadinya monopoli pembicaraan, mendorong peserta didik ketika terjadi kebuntuan
f)       Menutup kegiatan diskusi, dengan cara merangkum hasil dan diskusi, tindak lanjut, menilai proses diskusi yang telah dilakukan.
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan guru agar diskusi kelompok kecil dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran adalah:
a)      Topik yang sesuai
b)      Pembentukan kelompok secara tepat
c)      Pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua eserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.

9.      Keterampilan mengadakan evaluasi.
1.      Memperhatikan dan mengadakan pejajakan kemajuan murid
2.      Mengadakan diagnosa kan dan kelemahan murid dalam segi-segi tertentu
3.      Mencari pemecahan yaig bersifat mengatasi kesulitan, kelemahan dalam segi-segi tertentu
4.      Mengembangkan berbagai cara mengadakan evaluasi
5.      Mendorong agar murid berani megadakan evaluasi pada dirinya