Sabtu, 25 Oktober 2014

Definisi dan Rasional PAUD


Definisi PAUD

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pendidikan yang memberikan pengasuhan, perawatan, dan pelayanan kepada anak Usial Lahir sampai 6 tahun. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki sekolah dasar dan kehidupan tahap berikutnya.
   
Pendidikan usia dini  merupakan wahana  pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak. Keberhasilan proses pendidikan pada masa dini tersebut menjadi dasar untuk proses pendidikan selanjutnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini, seperti : Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, Satuan Padu Sejenis  maupun Taman Kanak-kanak sangat tergantung pada sistem dan proses pendidikan yang dijalankan. 

Salah satu pemenuhan hak pendidikan sejak dini pada usia 3-5 tahun yang kemudian dilakukan masyarakat dan pemerintah yaitu program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Didalam pelaksanaannya, setiap kelurahan yang ada di Indonesia didorong untuk memiliki minimal satu PAUD. PAUD merupakan alternatif pemenuhan hak pendidikan selain Taman Kanak-Kanak (TK) atau Taman Pendidikan Alqur�an (TPA).
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2005, PAUD termasuk dalam jenis pendidikan Non Formal. Pendidikan Non Formal selain PAUD yaitu Tempat Penitipan Anak (TPA), Play Group dan PAUD Sejenis. PAUD sejenis artinya PAUD yang diselenggarakan bersama dengan program Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu untuk kesehatan ibu dan anak). Sedangkan pada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), PAUD dimasukkan kedalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

Pada penyelenggaraan PAUD, jenis pendidikan ini tidak menggunakan kurikulum baku dari Depdiknas, melainkan menggunakan rencana pengajaran yang disebut Menu Besar. Menu Besar ini mencakup pendidikan moral dan nilai keagamaan, fisik/motorik, bahasa, sosial-emosional dan seni. Panduan dalam Menu Besar ini akan dikembangkan oleh tiap PAUD, berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing PAUD.

Selain tidak menggunakan kurikulum baku, PAUD juga ditujukan untuk kalangan ekonomi miskin. Karena biasanya PAUD tidak menarik iuran sekolah atau menarik iuran dengan jumlah yang sangat kecil. Hal ini untuk memenuhi hak pendidikan anak, mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma (Pasal 31 Konvensi Hak Anak).


RASIONAL DIADAKANNYA PAUD
Hakikat pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi pemersatu bangsa, penyamaan kesempatan, dan pengembangan potensi diri.Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi system pendidikan nasional, serta memuat visi, misi, fungsi, tujuan dan strategi pembangunan pendidikan nasional.Masa usia dini (0-6 tahun) merupakan masa keemasan (golden age) dimana peran stimulasi lingkungan yang kondusif dan dilakukan dengan cara bermain akan dapat mengembangkan pertumbuhan otak dan seluruh potensi anak. Karena:
1. merupakan masa peka bagi anak. Masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama. 
2. merupakan masa perkembangan kecerdasan yang pesat. Kecerdasan pada masa ini dapat meningkat dari 50% menjadi 80%.


Banyak manfaat bagi anak yang bersekolah di TK, a.l:
1. hampir seluruh aspek perkembangan anak tumbuh dan berkembang lebih baik dibandingkan anak yang tidak masuk 
2. TKmemiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak masuk 
3. TKtidak akan mengalami pengulangan kelas saat di kelas I dibandingkan anak yang tidak masuk 
4. TKlebih siap bersekolah dibandingkan anak yang tidak masuk

Bentuk-bentuk Paud terdiri dari :
  1. PAUD Formal ; TK, Raudhatul Atfal.
  2. PAUD Non Formal ; Kelompok Bermain (KB), Taman Pendidikan Anak (TPA), Pos Paud ..dll
  3. PAUD Informal ; Keluarga

Jumat, 17 Oktober 2014

STIA SILABI FILSAFAT PENDIDIKN ISLAM

RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
(RPS)

A.  INFORMASI UMUM
Nama Mata Kuliah        : Filsafat Pendidikan Islam (FPI)
Kode Mata Kuliah         : TBI (MKU)
Program Studi               : S-1
Bobot SKS                    : 2 SKS (16 Kali Pertemuan)
Semester                         : Gasal
Dosen Pengampu           : Abdul Aziz, M.Pd.I

B.  DESKRIPSI
Pemahaman dan pengetahuan secara konseptual secara mendasar tentang pendidikan Islam dengan melakukan beberapa studi analisis terhadap beberapa hasil pemikiran filosof dari para tokoh-tokoh muslim.

C.   STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa dapat memahamiunsur esensial pendidikan Islam dalam proses pembentukan kepribadian muslim.

D.   KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa mampu memahami unsur esensial pendidikan Islam dalam proses pembentukan kepribadian muslim melalui telaah dinamika pemikiran filosofis yang berkembang di kalangan kaum muslim.pengetahuan secara konseptual secara mendasar tentang pendidikan Islam dengan melakukan beberapa studi analisis terhadap beberapa hasil pemikiran filosof dari para tokoh-tokoh muslim.

E.  KEGIATAN

Tatap Muka
MATERI POKOK
KET
1
Pendahuluan dan kontrak belajar
Dosen
2
Konsep dasar filsafat pendidikan islam
Dosen
3
Paradigma kemanusiaan dalam pendidikan islam
Dosen
4
Epistimologi pendidikan islam
Dosen
5
Aksiologi pendidikam islam
Mahasiswa
6
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Al-Ghazali
Mahasiswa
7
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Ibn Miskawaih
Mahasiswa
8
UJIAN FORMATIF
Mahasiswa
9
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Muhammad Abduh
Mahasiswa
10
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Ismail Raji al-Faruqi
Mahasiswa
11
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Syekh Muhammad Naquib al-Attas
Mahasiswa
12
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Athiyah Al-Abrasyi
Mahasiswa
13
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif KH. Hasyim Asy’ari
Mahasiswa
14
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Ahmad Dahlan
Mahasiswa
15
Pemikiran pendidikan para filosof muslim tentang pendidikan islam perspektif Nurcholis Madjid
Mahasiswa
16
UJIAN SUMATIF
Mahasiswa

F. SISTEM EVALUASI
Perkuliahan ini akan memberi bobot nilai pada komponen-komponen berikut:
a.        Kedisiplinan                     10%
b.       Performance                     15%
b.    Akhlak Mulia                   15%
c.    Penugasan                                   15%
d.    Ujian Formatif (UF)        20%
e.    Ujian Sumatif (US)          25%

G. DAFTAR BACAAN
Ø Abuddin Nata. 2005.FilsafatPendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Ø Burhanudin dan Tati Sumiati. 2010.Filsafat Pendidikan. Subang: RoyyaNPress.
Ø Gie, The Liang. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakata: Lyberty.
Ø Hamdani Ikhsan,2007. Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia Bandung, 2007
Ø Indar, Djumberansjah. 1994.Filsafat Pendidikan. Surabaya : Karya Abditama.
Ø Ismaun. 2003. Filsafat Ilmu. Bandung: Program Pascasarjana UPI Bandung.
Ø Muzayyin Arifin,2009. Filsafat pendidikan Islam. Bumi Aksara,Jakarta.2009
Ø Rasyidin, et.al. 2007. Filsafat Pendidikan. Bandung: UPI Press.
Ø Sadulloh, Uyoh. 2011. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Ø Saifullah Ali, 1997. Antara filsafat dan pendidikan, Surabaya.1997
Ø Samsul Nizar, 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Press.
Ø Syam, MN. 2000. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional
Ø Tim Dosen Filsafat UGM. 2002.Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
Ø Uyoh sadullah, 2007. Pengantar Filsafat Pendidikan, Alfabeta,Bandung. 2007
Ø Zianuddin Alavi. 2003. Pemikiran Pendidikan Islam pada Abad Kalsik dan Pertengahan. Bandung: Angkasa.
Ø Zuhairini,2008. Filsafat pendidikan Islam, Bumi Aksara,Jakarta, 2008

Minggu, 12 Oktober 2014

KONSEP-KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

KONSEP-KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  
A.    Pengertian dan Karakteristik Anak Usia Dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.
Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.

1.   Anak bersifat unik.

2.   Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.

3.   Anak bersifat aktif dan enerjik.

4.   Anak itu egosentris.

5.  Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.

6.   Anak bersifat eksploratif dan berjiwa  petualang.

7.   Anak umumnya kaya dengan fantasi.

8.   Anak masih mudah frustrasi.

9.   Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.

10.   Anak memiliki daya perhatian yang pendek.

11.   Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.


12.   Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

SILABI MK Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini

SILABUS

Mata Kuliah                            :  Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini
Kode MK/Bobot SKS            : AUD 101 / 3 SKS
Semester                                 : 1 (Satu)
Kelompok Mata Kuliah          :  Mata Kuliah Keahlian Program Studi
Jurusan/ Program Studi           :  S1 PG-PAUD
Tim Dosen                               : Abdul Aziz

1.       Tujuan Mata Kuliah
Mahasiswa memahami secara komprehenship tentang konsep dan  teori dasar tentang pendidikan anak usia dini dalam berbagai sudut pandang keilmuan umum dan sudut pandang ilmu agama serta dapat mengaplikasikannya  secara professional baik pada lembaga PAUD formal, non formal maupun informal.
2.      Deskripsi   Mata Kuliah
Dalam perkuliahan dibahas tentang definisi, rasional,  tujuan,  ruang  lingkup, karakteristik dan fungsi pendidikan anak usia dini.  Selanjutnya  dieksplorasi pula tentang pendekatan, peran guru/pendidik,  perkembangan dan permasalahan berkaitan pendidikan anak usia dini. Untuk menyempurnakan pemahaman, dibahas pula tentang kebijakan-kebijakan berkaitan dengan pendidikan anak usia dini di Indonesia.
3.      Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan yang digunakan adalah integerasi antara penguasaan kemampuan hardskills dengan softskills dengan metode bervariasi, meliputi: ceramah, diskusi, pemecahan masalah dan penugasan.
Media : Infokus (LCD), CD, Televisi dan media lain yang relevan

4.   Evaluasi 
a.       Ujian Tengah Semester    
b.      Ujian Akhir Semester                          
c.       Tugas (Observasi, paper, praktek)
d.      Partisipasi kelas   

5.      Rincian Materi Pekuliahan Tiap Pertemuan
Pertemuan 1 : Hakekat Anak Usia Dini
Pertemuan 2 : Definisi dan Rasional PAUD
Pertemuan 3 : Tujuan, Fungsi-Peran dan Lingkup PAUD
Pertemuan 4 : Kebijakan PAUD di Indonesia
Pertemuan 5 : Teori Perkembangan Anak Usia Dini
Pertemuan 6 : Teori Pembelajaran Anak Usia Dini
Pertemuan 7 : Praktik Pembelajaran Sesuai dengan Perkembangan Anak (Development Appropriate Practice)
Pertemuan 8 : UTS
Pertemuan 9 : Pendekatan Dalam PAUD: Pendekatan Akademis
Pertemuan 10 : Pendekatan Dalam PAUD: Pendekatan Non Akademis
Pertemuan 11 : Pendekatan Dalam PAUD: Teori Bermain
Pertemuan 12 : Pendekatan Dalam PAUD: Implementasi Bermain
Pertemuan 13 : Praktek / Observasi Layanan PAUD
Pertemuan 14 : Karakteristik Program PAUD
Pertemuan 15 : Peran dan kualifikasi pendidik PAUD
Pertemuan 16 : UAS

Referensi :
Bateman. C.F. (1990). Empowering Your Child : How To Help Your Child Succed In School and in Life. Norfolk, V.A : Hampton Roads.
Beaty. J. Janice . (1994) Observing Devopment of Young Child. (third Edition). New Jersey: By Prentice-Hall. Inc
Bergen (1994), Understanding Preschool Play, Columbus: The Ohio State University
Bredekamp, Sue, (1987), Developmentally Appropriate Practice in Early
Childhood Program Serving Children from Birth through Age 8, Washington: National Association for Education of Young Children
Chritine, J & Enz, B.J (1993), Providing Resources for Play, Journal : Childhood Education, 70.291-292
Eliason, Claudia & Jenkin, Lea (1994), Practice/Guide to Early Childhood Curriculum, Mac Millan College Pub. Company
Elkin. D. (1981). Child Development and Early Childhood Education : Where do we stand to day? Young Children. 
Ford, S.A (1993), The Facilitator Role In Children Play: Journal: Young Children, 49.66-69.
Garvey, (1990), Play, Massachussetts: Harvard University Press
Gordon, Ira J (1972), Early Childhood Education, USA: The University of Chicago
Kartono, Kartini(1990) Psikologi Umum.Bandung: Mandar Maju.
..............(2002) Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Yayasan Citra Pendidikan Indonesia.
Piaget, J.(1929). The Child’s Conception of the World. NY : Harcourt, Brace Jevanovich.
Roopnaire & Johnson (1993), Approaches to Early Childhood Education, New York: Macmillan
Santoso, Soegeng.(2000). Problematika Pendidikan dan Cara Pemecahannya. Jakarta: Kreasi Pena Gading.
Seefeldt, Carol (1980), Teaching Young Children, New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Soedijarto.(2000). Pendidikan Nasional. Jakarta : CINAPS
Sollehuddin (1997), Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Bandung: FIP IKIP
Suryanto, Slamet.(2005) Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta : Hikayat Publishing






Selasa, 02 September 2014

Pengertian, ruang lingkup, dan manfaat Ilmu Akhlak

PENGERTIAN,RUANG LINGKUP,DAN MANFAAT ILMU AKHLAK
A.PENGERTIAN AKHLAK
terdapat banyak pemahaman ttg akhlak, namun telah banyak pula konsep dasar pemahan ttg akhlak itu sendiri, diantaranya dapat kita kaji Secara bahasa (linguistic) kata ‘akhlak’ berasal dari bahasa Arab, yaitu isimj mashdar (bentuk infinitive) dari kata akhlak, yukhliqu, ikjlakan, yang berarti al sajiyah (perangai), al thabi,ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al ‘adat (kebiasaan, kelaziman, al maru’ah), peradaban yang baik, dan al din (agama)
a. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang
b. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.
c. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.
d. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya bikan main-main atau karena bersandiwara.
e. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah.

Akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak. menurut Ibn Miskawih (w. 421 H/1030 M) bahwa akhlak adalah
حا ل للنفس داعية لها الى افعا لها من غير فكر ولاروية                                                                                
Sifat yang tetanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara Imam al-Ghazali mengatakan bahwa akhlak adalah
عبارةعن هيئة فى النفس راسخة عنها تصدر الافعالبسهو لة ويسر منغير حاجة الى فكر ورؤية                                
Sifat yang tetanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan perkembangan.

Dalam Encyclopedia Brittanica,akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.


B.CIRI-CIRI AKHLAK
1. Perbuatan itu sudah menjadi kebiasaan sehingga telah menjadi kepribadiannya.

2. Perbuatan itu adalah dilakukan tanpa didahului oleh pertimbangan.

3. Perbuatan itu timbul dari dorongan hati atau keinginan hati, bukan karena terpaksa.

4. Perbuatan itu dilakukan dengan sesungguhnya hati, bukan sekadar bercanda dan kajian ilmiah.

5. Perbuatan itu dilakukan dengan ikhlas ( untuk perbutan baik)

6. Tidak merasa bersalah atau malu setelah melakukannya, karena sudah menjadi kebiasaan sehari-sehari.

Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.
1.Perbuatan yang baik atau buruk.
2.Kemampuan melakukan perbuatan.
3.Kesadaran akan perbuatan itu
4.Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk

C.ILMU AKHLAK
ilmu akhlak yaitu telaah atas prilaku manusia sebagaimana mestinya. Di sini ilmu akhlak berfungsi sebagai sarana untuk menyempurnakan prilaku manusia dan menyodorkan kebaikan.
Secara lebih komprehensif, ilmu akhlak bisa didefinisikan sebagai pengetahuan tentang macam-macam sifat baik dan buruk, cara menyandang sifat baik dan membersihkan sifat buruk. Dan, subjek ilmu akhlak yaitu sifat-siaft baik dan buruk yang berkaitan dengan tindakan sengaja manusia, dan yang bisa diperoleh atau dihindari. Selain pengenalan atas berbagai macam kemualiaan dan kebejatan akhlak, ilmu akhlak juga membahas metode-metode menemukan sifat baik dan membersihkan sifat buruk. Naraqi menyimpulkan bahwa ilmu akhlak yaitu pengetahuan tentang sifat-sifat baik dan buruk dan tentang cara mendapatkan sifat baik serta membebaskan diri dari sifat buruk.

D.AKHLAK ISLAMY
Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman dan keimanan seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya aqidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap aqidah dan syariah. “Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur aqidahnya.”(HR.Tirmidi). “Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan sesungguhnya sebaik-baik manusia keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR.Thabrani, Ahmad dan Abu Ya’la)
• Akhlak adalah buah ibadah
• “Sesungguhnya shalat itu mencegah orang melakukan perbuatan keji dan munkar” (QS. 29:45)
• Keluhuran akhlak merupakan amal terberat hamba di akhirat
• “Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
• Akhlak merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, umat karena itulah akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim sebagai makhluk Allah SWT.
• “Sesungguhnya termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya”(Muttafaq ‘alaih).

E.RUANG LINGKUP AKHLAK
Sifat Mahmudah atau juga dikenali dengan akhlak terpuji ialah sifat yang lahir didalam diri seseorang yang menjalani pembersihan jiwa dari sifat-sifat yang keji dan hina (sifat mazmumah). Sifat Mazmumah boleh dianggap seperti racun-racun yang boleh membunuh manusia secara tidak disedari dan sifat ini berlawanan dengan sifat mahmudah yang sentiasa mengajak dan menyuruh manusia melakukan kebaikan.

Oleh itu, dalam Islam, yang menjadi pengukur bagi menyatakan sifat seseorang itu sama ada baik atau buruk adalah berdasarkan kepada akhlak dan perilaku yang dimilik oleh seseorang.


AKHLAK KEPADA ALLAH
a. Cinta dan ikhlas kepada Allah SWT.
b. Berbaik sangka kepada Allah SWT.
c. Rela terhadap kadar dan qada (takdir baik dan buruk) dari Allah SWT.
d. Bersyukur atas nikmat Allah SWT.
e. Bertawakal/ berserah diri kepada Allah SWT.
f. Senantiasa mengingat Allah SWT.
g. Memikirkan keindahan ciptaan Allah SWT.
h. Melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah SWT.

AKHLAK DALAM KELUARGA
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.

Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri-sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.

AKHLAK DALAM MASYARAKAT
• Tolong-menolong
• Adil
• Menepati janji
• Bermusyawarah
• Menjaga ukhuwah

AKHLAK TERHADAP ALAM SEKITAR
• Melestarikan lingkungan
• Menjaga lingkungan dari pencemaran
• Memanfaatkan sumberdaya untuk kesejahteraan bersama

F.KEDUDUKAN AKHLAK
Agama Islam adalah agama yang sangat mementingkan ajaran akhlaq, dalam kehidupan di dunia ini, manusia bukanlah makhluk individual yang hidup sendirian tetapi manusia juga membutuhkan orang lain atau makhluk sosial. Oleh karena itu, akhlaq karimah mutlak diperlukan dalam perwujudan tatanan hidup yang serasi dan berkesinambungan demi tercapainya kebahagiaan hidup. Akhlak karimah merupakan perwujudan seseorang, yaitu sebagai bukti konkret dari kualitas agama seseorang.

G.PEMBINAAN AKHLAK DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Pembinaan akhlak bagi setiap muslim adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan terus menerus. Baik dengan cari melalui pembinaan orang lain maupun pembinaan diri sendiri tanpa harus dituntun orang lain. Hidup di tengah krisis kehidupan sekarang ini, pembinaan akhlak memang harus lebih gencar dilakukan. Banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa berbagai kerusakan dan kejahatan yang terlah terjadi sampai saat ini akibat manusia tidak lagi memegang dan mengamalkan akhlak yang baik. Kapitalisme dan hedonisme yang menginvasi kawasan muslim betul-betul telah berdampak buruk. Ditambah lagi kurangnya perhatian masyarakat Islam sendiri terhadap pendidikan atau pembinaan akhlak

H.HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF
Para ahli Ilmu Tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki, dan ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat pada kalangan filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, hubungan manusia dengan Tuhan dan lain sebagainya. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dengan akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak terpuji), tajalli (terbukanya dinding penghalang (hijab) yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelas padanya. Sedangkan pada tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk tarikat. Dengan mengamalkan tasawuf baik yang bersifat falsafi, akhlaki atau amali, seseorang dengan sendirinya berakhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, pilihan sendiri, dan bukan karena terpaksa.

MANFAAT MEMPELAJARI ILMU AKHLAK
• Membersihkan kalbu dari kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci dan bersih
• Memiliki pengetahuan tentang kriteria perbuatan baik dan buruk
• Membersihkan diri manusia dari perbuatan dosa dan maksiat
• Menetapkan perbuatan sebagai perbuatan baik dan buruk

HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA
A. Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Tasawuf
       Para ahli tasawuf pada umumnya membagi ilmu tasawuf ke dalam tiga bagian yang berbeda dalam hal pendekatannya, yaitu:
1.    Tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran.
2.    Tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya
       terdiri dari takholli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasi diri  
       dengan akhlak terpuji) dan tajalli (terbukannya penghalang  (hijab)).
3.    Tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliyah atau wirid yang
       selanjutnya mengambil bentu tarikat.

B.    Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Tauhid
       Hubungan ilmu akhlak dan ilmu tauhid:
1.    Dilihat dari segi pembahasannya, ilmu tauhid membahas masalah Tuhan baik dari segi
       zat, sifat dan perbuatan-Nya. Dengan demikian ilmu tauhid akan mengarahkan perbuatan
       manusia menjadi ikhlas, dan keikhlasan ini merupakan salah satu akhlak terpuji.
2.    Dilihat dari segi fungsinya, ilmu tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid  
       tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya saja,
       tetapi yang terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan mencontoh
       terhadap subjek yang ada dalam rukun iman itu. Hubungan ilmu tauhid dan ilmu akhlak
       dapat pula  dilihatdari eratnya kaitan antara iman dan amal sholeh.

C.    Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Jiwa
        Dilihat dari segi garapannya, ilmu jiwa membahas tentang gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku. Melalui ilmu jiwa dapat diketahui sifat-sifat psikologis yang dimiliki seseorang. Banyak hasil pembinaan akhlak yang telah dilakukan para ahli dengan menggunakan jasa yang diberikan ilmu jiwa, seperti yang dilakukan para psikolog terhadap perbaikan anak-anak nakal, berprilaku menyimpang dan lain sebagainya.

D.    Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Pendidikan
        Dalam ilmu pendidikan antara lain dibahas tentang rumusan tujuan pendidikan, materi pelajaran, guru, metode, sarana dan prasarana, lingkungan bimbingan, proses belajar mengajar dan lain sebagainya. Semua aspek pendidikan tersebut ditujukan pada tercapainya tujuan pendidikan, adapun tujuan pendidikan ini dalam pandangan islam banyak berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak atau identik dengan tujuan seorang Muslim yaitu menjadi hamba Alloh yang mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya.

E.    Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Filsafat
        Filsafat adalah suatu upaya berfikir mendalam, radikal, sampai ke akar-akarnya, universal dan sistematik dalam rangka menemukan inti atau hakikat mengenai segala sesuatu. Dalam filsafat segala sesuatu dibahas untuk ditemukan hakikatnya. Diantara obyek pemikiran filsafat yang erat kaitannya dengan Ilmu Akhlak adalah tentang manusia. Ibnu sina misalnya menatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini.
BAB III
INDUK AKHLAK ISLAMI
       Secara garis besar akhlak dibagi dalam dua bagian, yaitu akhlak baik (al-akhlak al-karimah) dan akhlak buruk (al-akhlak al-mazmumah). Secara teoritas macam-macam akhlak berinduk kepada tiga bagian yaitu hikmah (bijaksana), syaja’ah (perwira atau kesatria) dan iffah (menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Ketiga macam induk akhlak ini muncul dari sikap adil, yaitu sikap pertengahan atau seimbang dalam mempergunakan tiga potensi rohani yang terdapat dalam diri manusia, yaitu ‘aql (pemikiran) yang berpusat di kepala, ghodob (amarah) yang berpusat di dada, dan nafsu syahwat (dorongan seksual) yang berpusat di perut. Akal yang digunakan secara adil akan menimbulkan hikmah, sedangkan amarah yang digunakan secara adil akan menimbulkan sikap perwira, dan nafsu syahwat yang digunakan secara adil akan menimbulkan sikap iffah yaitu dapat memelihara diri dari perbutan dosa dan maksiat. Dengan demikian inti akhlak pada akhirnya bermuara pada sikap adil dalam mempergunakan potensi rohaniah yang dimiliki manusia. Demikian pentingnya bersikap adil ini di dalam Al-Qur’an kita jumpai berbagai ayat yang menyuruh manusia agar mampu bersikap adil. Diantara ayat-ayat itu adalah sebgai berikut:
ان الله يأ مركم ان تؤدواالامنت إلى اهلهاواذاحكمتم بينالناس ان تحكموابالعدل ان الله نعمايعظكم به ان لله كان سميعابصرا
Artinya : “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.”(QS. An-Nisa, 58)

Sudah baik akhlak kita????????
kita renungkan sejenak!
semoga berhasil.